Beranda Berita Terbaru Mengenal Desa Mbengan di NTT yang Ditetapkan Sebagai Desa Wisata

Mengenal Desa Mbengan di NTT yang Ditetapkan Sebagai Desa Wisata

143
0

Desa Mbengan di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah ditetapkan sebagai desa wisata oleh Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas.

Sehubungan dengan penetapan itu, Kepala Desa Mbengan, Yohanes Tobi, mengatakan bahwa pemerintah desa tersebut saat ini tengah menata dan mempromosikan daya tarik setempat.

Salah satu tempat wisata yang terkenal di kalangan wisatawan adalah Ngapan Keto atau Tebing Keto, spot menikmati panorama Laut Sawu bagian selatan dari Manggarai Timur.

“Saat ini kami perangkat desa bersama masyarakat sedang menata obyek wisata tersebut. Beberapa waktu lalu turis dari Jerman sudah berwisata di obyek wisata Ngapan Keto,” kata Yohanes saat dihubungi Kompas.com lewat telepon, Rabu, (19/10/2022).

“Bahkan beberapa tahun lalu rombongan turis dari Belgia yang dipandu oleh pemandu dari Manggarai Timur sudah mengunjungi desa ini dan menyaksikan atraksi budaya yang dipentaskan oleh masyarakat setempat,” imbuhnya.

Sementara itu, tempat wisata lainnya yang bisa dikunjungi adalah Air Terjun Ndalo Werok, Gua Liang Kar, Air Terjun Piripipi, Air Terjun Par Tambang, dan Rumah Adat Mbaru Embo dari suku nanga.

Daya Tarik Adat dan Budaya Desa Wisata Mbengan

Selain tempat wisata, Desa Wisata Mbengan juga menawarkan aneka daya tarik adat dan budaya, antara lain tarian keda rawa dari suku bebong di Kampung Bungan, umbiro, wai doka, dan tarian kelong.

Ada pula permainan tradisional napa tikin, ghena ajo, dang ajo, paka maka, dan berbagai ritual adat yang berkaitan dengan pertanian.

Tetua adat suku mukun di Desa Mbengan, Kornelius Ngamal Ramang, menerangkan bahwa tarian sakral di Kampung Bungan yang masih terjaga dengan baik yakni tarian keda rawa. Tarian ini umumnya dilangsungkan saat ritual adat ghan woja.

Sebagai informasi, kata “keda” artinya injak tanah atau menghentakkan kaki ke tanah, sedangkan kata “rawa” artinya syair-syair mistis yang dilantunkan tetua adat kampung tersebut.

Bila digabung, maka tarian keda rawa artinya tarian khas bernuansa mistis yang dilaksanakan oleh para tetua adat laki-laki. Tarian ini ditampilkan pada tengah malam sekitar pukul 00.00 Wita dan pada pagi hari sebelum matahari terbit.

Sementara itu, nama ritual ghan woja juga terdiri dari dua kata, yakni “ghan” yang berarti makan dalam bahasa etnis kolor dan “woja” artinya bulir padi panjang.

Jadi ritual ghan woja bermakna makan padi baru guna menandakan berakhirnya tahun lama dan memasuki tahun tanam baru, menurut kalender pertanian para petani di kampung itu.

Ramang menambahkan, ritua ghan woja sudah dilaksanakan minggu lalu oleh warga satu kampung.

“Ritual ini juga sebagai ungkapan rasa syukur bahwa tahun lama sudah lewat dan memasuki tahun baru masa tanam dalam kalender pertanian orang Kampung Bungan,” jelasnya kepada Kompas.com, Minggu (9/10/2022).

Biasanya, lanjut Ramang, ritual ghan woja dilaksanakan pada Juli-September tiap tahunnya, namun kali ini agak terlambat akibat perubahan iklim.

Pantangan dalam Ritual Ghan Woja

Sebelum melaksanakan ritual ghan woja di rumah, masyarakat Kampung Bungan dilarang membuka kebun baru. Ini aturan lisan yang secara turun temurun ditaati masyarakat setempat.

Bila melanggar, maka diyakini hasil panen tidak akan melimpah dan kebun akan diganggu binatang. Biasanya yang ditanam adalah jagung dan padi.

“Ada masyarakat yang coba melanggar aturan adat ini. Buktinya tidak ada hasil jagung, padi di kebunnnya. Selain itu jagung, padi tidak berbuah dan diganggu binatang-binatang,” tuturnya.

Ia menjelaskan, yang menanam pertama di ladang adat di sekitar mbaru mere (rumah adat) yakni suku nanga. Jika tetua adat suku nanga belum menanam padi dan jagung di kebun, warga lain dilarang menanam duluan.

“Ini aturan adat yang ditaati oleh warga Kampung Bungan. Dan masih ada banyak ritual adat lainnya di Kampung Bungan,” katanya.

Ramang mengatakan bahwa ia juga pernah memandu rombongan wisatawan mancanegara dari Inggris untuk menyaksikan tarian keda rawa dan ritual ghan woja.

“Jadi ritual adat ghan woja dan tarian keda rawa sudah dikenal di Inggris yang dibawa oleh turis tersebut,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini