Beranda Musi Rawas, Lubuklinggau & Muratara Tips Meminimalkan Risiko Saat Mengambil Keputusan

Tips Meminimalkan Risiko Saat Mengambil Keputusan

95
0

Setiap harinya, manusia dihadapkan dengan pengambilan keputusan. Mulai dari keputusan kecil, seperti memilih makanan, hingga keputusan besar, seperti karier.

Terlebih, dalam dunia kerja, kita selalu dituntut untuk mengambil keputusan yang maksimal. Sebab, hal ini bisa memengaruhi performa kita nantinya. Sayangnya, kita sering dihadapkan dengan situasi yang tak pasti.

Itu sebabnya, Irfan Agia, Content Creator dan Consumer Psychology Practitioner, dalam siniar Obsesif bertajuk “Irfan Agia: Berpikir Jernih untuk Menavigasi Risiko” mengungkapkan pentingnya memiliki kemampuan menavigasi risiko.

Kemampuan ini penting dimiliki semua orang agar kita bisa beradaptasi dengan cepat dalam mengambil keputusan dengan relevan. Sebab, banyak peristiwa yang bisa terjadi di luar kuasa kita.

Dua Faktor yang Perlu Diperhatikan

Sebelum mengambil keputusan, ada dua faktor yang sangat memengaruhi, yaitu internal dan eksternal. Internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri, misalnya hardskill, softskill, pengetahuan, dan cara pandang.

Kemudian eksternal adalah faktor yang berada di luar kontrol kita. Agia memberikan beberapa contoh, “Dinamika bisnis, dinamika industri, peraturan perusahaan dan bagaimana cara orang menilai kita.”

Untuk menghadapi dua faktor tersebut, Agia menjelaskan kita harus fokus pada faktor internal. Sebab, menurutnya, “Gue percaya success happen when preparation meet opportunity. Kita perlu fokus menyiapkan hal-hal yang berada dikendali kita aja.”

Pria ini pun melanjutkan, “Jadi, kalo ada kesempatan datang atau penawaran promosi, kita siapin duluan. Baru nanti kalo udah siap di take it.”

Risiko Berhubungan dengan Kesempatan

Sayangnya, kebanyakan orang berfokus pada faktor eksternal yang menyebabkan kurangnya rasa percaya diri saat mendapat penolakan atau kritik di tempat kerja. Padahal, kesuksesan tak hanya berasal dari eksternal saja.

“Ini tentunya akan mendistraksi kita dari hal yang harusnya kita utamakan, yaitu menggali potensi diri,” pungkas Agia.

Ia pun merekomendasikan untuk memperdalam pola pikir stoikisme. Alih-alih fokus pada hal yang mendistraksi, kita harus fokus pada hal yang bisa kita kontrol.

Misalnya, jika ingin memperoleh jenjang karier yang lebih baik, kita harus mempersiapkan bekal dan pengetahuan seputarnya. Agia pun menekankan, “The higher our knowledge about it, the lower risk that can come.”

Pria ini menambahkan, “Setiap aspek kehidupan, termasuk pekerjaan, pasti ada risikonya. Risiko itu makin besar terjadinya kalo kita gak punya pengetahuan untuk meminimalisirnya.”

Cara Meningkatkan Pengetahuan
Dalam meningkatkan kemampuan untuk menunjang karier, menurut Agia, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama adalah melakukan riset secara mandiri. Misalnya, saat masih menjadi jobseeker, kita bisa belajar lebih dalam mengenai posisi atau bidang yang kita tuju. Sementara itu, saat sudah bekerja, kita bisa bertanya soal jenjang karier di perusahaan.

Hal ini dilakukan sebab, “Setiap kita akan mengambil keputusan dalam karier, tentu kita perlu meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk pilihan karier kita,” tutur Agia.

Kedua adalah menyelami politik kantor. Sayangnya, banyak karyawan justru menghindarinya, “Biasanya cenderung menghindarinya. Padahal, menurut gua pribadi, politik sendiri adalah suatu yang pasti akan ada, di mana aja kita bekerja.”

Menurut Agia, menerapkan politik yang baik bisa berguna bagi jenjang karier kita. Sebab, di sanalah ajang untuk mempromosikan diri secara adil sehingga kita bisa membantu meminimalisasi risiko dengan orang lain.

Ketiga, yaitu mempelajari struktur di perusahaan atau organisasi. Hal ini harus dilakukan sebab kita perlu tahu siapa yang punya wewenang dan pengaruh, serta siapa yang paling dihormati dan sukarela membimbing.

Untuk mendapatkan targetnya, Agia menyarankan untuk melakukan observasi atau memetakan orang-orang kantor. Jika sudah berjalan, banyak hal yang bisa dipelajari dari orang-orang tersebut.

Keempat adalah menyambut dengan positif segala potensi diri. Jika sudah paham potensi diri, kita tak boleh menyia-nyiakannya. Justru gunakanlah kesempatan itu untuk memperdalam dan mengasah potensi diri dengan mengikuti pelatihan bersertifikasi.

Nantinya, hal ini akan sangat berguna karena, “Ketika sudah tahu potensi dalam diri kamu, kamu bisa meminimalisasi kesalahan pada pekerjaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini